Fariz Salman Alfarisi: Taubat Seorang Pembunuh

Laman

13/11/11

Taubat Seorang Pembunuh


1.Taubat Seorang Pembunuh     
Abu Sa’id Al-Khudri menceritakan bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Dahulu kala ada orang yang pernah membunuh sembilan puluh sembilan jiwa. Kemudian ia bertanya kepada orang pintar. Lantas ia membawanya kepada seorang rahib seraya berkata: ‘Orang ini telah membunuh sembilan puluh sembilan orang, apakah ia masih bisa bertaubat?’ Rahib menjawab: ‘Tidak’, mendengar jawaban tersebut, orang itu langsung membunuhnya, sehingga kini ia telah membunuh seratus orang. Kemudian ia bertanya kembali kepada orang pintar. Lantas ia dibawa kepada seorang alim, orang pintar itu berkata: ‘Orang ini telah membunuh seratus orang, apakah ia masih bisa bertaubat?’ Orang alim menjawab: ‘Ya, pergilah ke suatu tempat, di mana di sana penduduknya menyembah Allah. Sembahlah Allah bersama mereka, jangan pernah kembali ke tempat asalmu, karena tempatmu penuh kebusukan’. Maka orang itu pun pergi. Namun di tengah jalan, malaikat Maut menjemputnya, sementara malaikat Rahmat dan malaikat Azab berseteru memperebutkannya. Malaikat Rahmat berkata: ‘Ia datang untuk bertaubat sepenuh hati kepada Allah’. Malaikat Azab menyahut: ‘Ia belum pernah beramal baik walaupun hanya sekali’. Ketika mereka berseteru, datang seorang malaikat dalam wujud manusia untuk memutuskan perkara yang terjadi di antara keduanya. Ia berkata: ‘Hitunglah jarak antara tempat ia pergi dan tempat tujuannya, mana yang lebih dekat dari dirinya, maka itu adalah bagiannya’. Kemudian mereka menghitungnya, dan ternyata ia lebih dekat ke tempat tujuannya. Maka malaikat Rahmat mengambilnya”.
            Dalam sebuah riwayat dinyatakan bahwa jarak ke tampat tujuan, yaitu tempat di mana orang-orang shaleh hidup di sana, adalah lebih dekat satu jengkal, sehingga taubatnya diterima.
            Dalam riwayat lain dinyatakan: Allah mewahyukan kepada yang satu (tempat asal) untuk menjauh dan kepada yang satunya lagi (tempat tujuan) untuk mendekat. Ketika diukur, ternyata ia lebih dekat satu jengkal kepada tempat yang dituju, maka Allah pun mengampuni dosanya.
            Dalam sebuah riwayat, Hasan mengatakan: Kami diberitahu bahwa ketika malaikat Maut datang, orang tersebut menjauhkan dadanya darinya.[i]


[i] At-Targhib Wat-Tarhib, jilid 4, h. 101-102.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar